Kisah Sukses Inovasi 31 Rasa Es Krim Baskin Robbins - Metamorfosa.id

Kisah Sukses Inovasi 31 Rasa Es Krim Baskin Robbins

Sebuah Tips Bisnis yang Menggelitik dalam Kisah Sukses Usaha Es Krim Baskin-Robbins

Cerita bisnis ini saya dapatkan dari pakar marketing, Kafi Kurnia, dalam buku lawasnya yang masih menggelitik untuk dibaca, “Anti Marketing” tentang bagaimana Baskin Robbins mengembangkan usahanya.

Bermula dari seorang bernama Irvine Robbin, tokoh dan pionir bisnis es krim Baskin-Robbins 31. Robbin kecil memiliki orangtua pemilik perusahaan susu di Tacoma, Washington dimana ketika itu selalu saja ada susu segar yang tak terjual.

Agar tidak basi dan terbuang, surplus susu mereka manfaatkan untuk membuat es krim. Awalnya, es krim itu mereka jajakan lewat toko swalayan di sekitar perusahaan, namun hasilnya kurang menguntungkan karena masih dikelola secara amatiran.

Akhirnya, ayah Robbin membuka toko es krim sendiri. Dari sini Robbin menemukan bahwa konsumen yang masuk ke toko es krim umumnya berwajah gembira. Mereka tahu persis, kalau masuk ke toko es krim akan keluar toko dengan mendapatkan keceriaan. Berlainan dengan konsumen warung biasa dimana terkadang mendapatkan perlakukan yang serba terburu-buru dan kurang menyenangkan. Konsep toko es krim yang selalu menyenangkan ini membuat Robbin jatuh cinta pada bisnis es krim.

kisah.sukses.bisnis.es.krim.baskin.robbins

Setelah lulus kuliah, Robbin masuk militer dan ikut dalam Perang Dunia II. Usai perang ia tidak segera pulang karena enggan bekerja di perusahaan ayahnya dan justru memutuskan untuk pergi ke California untuk membuka toko es krimnya sendiri dengan modal tabungan US$ 6.000.

Langkah Robbin ini ternyata diikuti oleh sepupunya, Burton Baskin yang juga baru pulang usai dinas militer. Ayah Robbin mensupport mereka agar membuka beberapa gerai toko es krim sehingga dapat mendukung keberadaan sebuah pabrik es krim. Tahun 1948., Robbin memiliki lima toko es krim sedangkan Baskin memiliki tiga toko es krim. Namun, situasi keuangan mereka ternyata tak kunjung membaik.

Robbin kemudian memutuskan untuk mencari terobosan. Pada tahun 1953 ia menyewa biro iklan Carson-Roberts yang selanjutnya memberikan ide untuk mengusung konsep es krim 31 rasa. Tujuannya supaya konsumen yang mengunjungi toko tersebut bisa mendapatkan rasa yang berbeda setiap harinya.

Robbin dan Baskin akhirnya memutuskan untuk bersati dan menciptakan toko es krim terkenal. “Baskin Robbins 31”. Agar bisa menyebar cepat, semua toko yang mereka miliki mereka jual kepada para manajer mereka. Robbin dan Baskin memutuskan untuk membuat franchise dari konsep bisnis mereka.

Efek dari inovasi 31 rasa ini ternyata sangat popular di kalangan konsumen. Dan untuk menciptakan efek positif berikutnya, mereka memutuskan untuk melibatkan konsumen. Upaya ini berhasil baik. Kini berbagai rasa yang populer dari Baskin Robbins 31 justru datang dari usulan konsumen.

Apa yang dilakukan oleh Baskin & Robbin ini disebut oleh Kafi Kurnia sebagai upaya dari menciptakan efek limun. Seperti kita ketahui, sebotol limun ketika dibuka akan penuh buih dan gairah, namun setelah buih dan sodanya hilang maka rasanya akan datar saja. Hal ini tidak boleh terjadi dalam bisnis.

Kita tidak bisa hanya “galak di garis start saja, tapi harus keren hingga garis finis. Sistem yang dijalankan oleh Baskin & Robbins dengan inovasi rasanya memungkinkan konsumen untuk mendapatkan rasa yang baru setiap hari. Sehingga setiap konsumen yang berkunjung seperti membuka sebotol limun yang baru setiap hari. Selalu segar dan selalu berbuih dengan gairah.

Seperti diceritakan dari sumber buku Anti Marketing karya Kafi Kurnia, bab LIMUN, halaman 91-93.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *